Terbangun karena dada terasa nyeri bisa membuat siapa pun cemas. Penyebab nyeri dada di tengah malam memang sering berkaitan dengan asam lambung, tetapi keluhan serupa juga dapat muncul pada gangguan jantung, paru, otot, hingga kecemasan.
Waktu munculnya nyeri tidak cukup untuk menentukan penyebabnya. Jika nyeri terasa berat, menetap, menjalar, atau disertai sesak napas dan keringat dingin, segera cari pertolongan di IGD rumah sakit terdekat.
Penyebab Nyeri Dada di Tengah Malam yang Perlu Diketahui
Dada adalah area yang dekat dengan jantung, paru, kerongkongan, lambung, tulang rusuk, serta banyak otot dan saraf. Karena itu, rasa nyeri pada bagian tengah dada bisa berasal dari beberapa organ yang berbeda.
Keluhannya pun dapat tumpang tindih. Sensasi panas akibat refluks bisa mirip tekanan di dada, sementara nyeri otot dapat terasa tajam saat Anda bergerak atau menarik napas. Diagnosis tidak bisa dipastikan hanya berdasarkan jam munculnya nyeri atau letaknya.
Asam lambung naik atau GERD saat berbaring
GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan. Saat Anda berbaring, gravitasi tidak lagi membantu menjaga isi lambung tetap berada di bawah. Karena itu, makan besar lalu langsung tidur dapat memicu rasa panas atau terbakar di dada.
Keluhan ini sering disertai rasa asam atau pahit di mulut, sendawa, kembung, tenggorokan terasa mengganjal, atau batuk pada malam hari. Nyeri dapat memburuk ketika membungkuk, berbaring telentang, atau mengenakan pakaian yang menekan perut.
Meski begitu, jangan langsung menganggap semua nyeri dada malam hari sebagai maag. Nyeri akibat serangan jantung kadang juga menyerupai rasa tidak nyaman seperti gangguan pencernaan. Terutama bila keluhan baru pertama kali terjadi atau terasa berbeda dari gejala lambung Anda yang biasa.
Masalah jantung, termasuk angina dan serangan jantung
Nyeri yang berasal dari jantung sering terasa seperti dada tertindih, diremas, penuh, berat, atau ditekan kuat. Rasa ini tidak selalu tajam. Pada sebagian orang, keluhannya berupa sesak, rasa tercekik, atau tidak nyaman yang sulit dijelaskan.
Nyeri dapat menjalar ke lengan kiri atau kanan, bahu, punggung, leher, hingga rahang. Selain itu, beberapa orang mengalami mual, keringat dingin, pusing, lemas berat, atau napas pendek.
Angina terjadi ketika aliran darah ke otot jantung tidak mencukupi. Sementara itu, serangan jantung terjadi saat aliran darah ke bagian jantung tersumbat dan memerlukan tindakan cepat. Keluhan dapat muncul saat aktivitas, tetapi juga bisa terjadi ketika beristirahat atau tidur.
Risiko penyakit jantung lebih tinggi pada orang dengan hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, atau riwayat keluarga penyakit jantung. Namun, orang tanpa faktor risiko yang jelas tetap perlu waspada terhadap tanda bahaya.
Gangguan paru, otot dada, dan penyebab lain
Gangguan pada paru juga dapat memicu nyeri dada pada malam hari. Emboli paru, pneumonia, asma, radang selaput paru, serta paru kolaps dapat menimbulkan nyeri yang memburuk saat menarik napas dalam atau batuk. Sesak napas mendadak, napas cepat, batuk berdarah, atau bibir tampak kebiruan perlu dianggap sebagai keadaan darurat.
Di sisi lain, kostokondritis adalah peradangan pada sambungan tulang rusuk dan tulang dada. Cedera otot setelah olahraga, batuk terus-menerus, mengangkat beban, atau posisi tidur yang menekan dada juga bisa menyebabkan nyeri. Biasanya, keluhan seperti ini berubah saat tubuh bergerak atau ketika area yang sakit ditekan.
Ada pula penyebab lain yang tidak boleh diabaikan. Serangan panik dapat menimbulkan dada berdebar, sesak, gemetar, dan takut berlebihan. Herpes zoster dapat diawali nyeri atau rasa terbakar pada satu sisi dada sebelum ruam muncul. Batu empedu dan pankreatitis juga dapat menyebabkan nyeri di dada bagian bawah atau perut atas yang menjalar ke punggung.
Nyeri yang berubah saat ditekan memang lebih sering berkaitan dengan otot atau dinding dada, tetapi ciri ini tidak cukup untuk menyingkirkan masalah jantung tanpa pemeriksaan medis.
Bagaimana Membedakan Nyeri Dada yang Cenderung Ringan dan Serius?
Pola gejala dapat memberi petunjuk awal, tetapi tidak bisa menjadi alat diagnosis di rumah. Bahkan dokter perlu menilai riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, elektrokardiogram atau EKG, serta tes lain bila diperlukan.
Tabel berikut membantu mengenali pola yang umum, bukan untuk menentukan diagnosis sendiri.
Pola keluhan
Lebih sering berkaitan dengan
Hal yang perlu diingat
Terbakar setelah makan atau saat berbaring
GERD atau refluks asam lambung
Bisa menyerupai keluhan jantung
Makin sakit saat bergerak, batuk, atau ditekan
Otot dada, tulang rusuk, kostokondritis
Tetap periksa bila nyeri baru atau berat
Terasa tertindih, berat, atau diremas
Angina atau serangan jantung
Perlu penanganan segera, terutama bila menetap
Nyeri saat menarik napas disertai sesak
Gangguan paru atau selaput paru
Dapat menjadi keadaan darurat
Disertai keringat dingin, pusing, atau pingsan
Kondisi jantung atau kondisi serius lain
Jangan menunggu keluhan mereda sendiri
Ciri-ciri tersebut hanya membantu Anda mengambil keputusan awal. Jika ragu, pilih langkah yang lebih aman dengan memeriksakan diri.
Ciri yang sering muncul pada GERD atau nyeri otot
Refluks asam lambung lebih sering muncul setelah makan, terutama jika Anda tidur terlalu dekat dengan waktu makan. Makanan berlemak, pedas, asam, cokelat, kopi, minuman berkafein, dan alkohol dapat menjadi pemicu pada sebagian orang.
Nyeri karena GERD biasanya disertai sensasi panas di belakang tulang dada. Gejala dapat berkurang saat duduk tegak, walau hal ini tidak selalu terjadi. Rasa asam di mulut dan sering sendawa juga mengarah ke refluks.
Sementara itu, nyeri otot atau dinding dada lebih sering memburuk saat memutar badan, mengangkat tangan, batuk, tertawa, atau menarik napas panjang. Area nyeri kadang terasa jelas saat disentuh. Keluhan ini dapat muncul setelah aktivitas fisik yang tidak biasa atau posisi tidur yang membuat tubuh kaku.
Namun, kemiripan pola bukan jaminan. Jangan memakai respons terhadap obat maag sebagai bukti bahwa nyeri tersebut pasti berasal dari lambung.
Gejala yang mengarah pada kondisi darurat
Segera anggap keluhan sebagai keadaan darurat bila nyeri terasa menekan kuat, berat, atau tidak hilang dalam beberapa menit. Kewaspadaan perlu meningkat jika nyeri berulang, semakin berat, atau tidak membaik dengan istirahat.
Tanda bahaya lain meliputi:
Nyeri menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, punggung, atau perut bagian atas.
Sesak napas, napas cepat, atau sulit bernapas saat berbaring.
Keringat dingin, mual, muntah, pusing, lemas berat, atau rasa ingin pingsan.
Pingsan, kebingungan, jantung berdebar hebat, atau kulit tampak pucat.
Nyeri tajam mendadak yang muncul bersama sesak berat atau batuk berdarah.
Pada perempuan, lansia, dan penderita diabetes, serangan jantung tidak selalu menimbulkan nyeri dada khas. Keluhannya dapat berupa lelah tidak biasa, mual, sesak, nyeri punggung, atau gangguan pencernaan yang terasa tidak lazim.
Kapan Perlu ke Dokter atau Segera ke IGD?
Jawaban paling aman untuk keluhan penyebab nyeri dada di tengah malam adalah jangan menunggu bila nyeri baru, berulang, menetap, atau makin berat. Pemeriksaan tetap penting meski rasa sakitnya tampak ringan.
Pergi ke IGD atau hubungi layanan darurat segera bila Anda mengalami salah satu tanda bahaya di atas. Hal ini lebih mendesak bagi orang dengan hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, penyakit jantung, atau riwayat serangan jantung dalam keluarga.
Jangan menyetir sendiri jika nyeri terasa berat atau Anda mengalami sesak, pusing, lemas, maupun hampir pingsan. Mintalah keluarga mengantar atau gunakan ambulans. Waktu dapat menentukan hasil penanganan pada serangan jantung dan gangguan paru tertentu.
Situasi yang memerlukan pemeriksaan dokter dalam waktu dekat
Buat janji dengan dokter jika nyeri sering membangunkan Anda dari tidur. Hal yang sama berlaku bila keluhan berulang setelah makan, makin sering terjadi, tidak membaik setelah perubahan kebiasaan, atau mulai mengganggu kerja dan aktivitas harian.
Dokter umum dapat menjadi titik awal pemeriksaan. Bila perlu, dokter dapat merujuk Anda ke dokter penyakit dalam, dokter jantung, atau dokter paru sesuai pola keluhan.
Pemeriksaan bisa mencakup EKG, tes darah, rontgen dada, pemeriksaan fungsi paru, atau evaluasi lambung. Jenis pemeriksaan bergantung pada gejala, usia, riwayat penyakit, dan hasil pemeriksaan langsung.
Informasi yang perlu dicatat sebelum berkonsultasi
Catatan sederhana membantu dokter mengenali pola keluhan dengan lebih cepat. Tuliskan waktu mulai nyeri, durasinya, lokasi yang paling terasa, serta sifat nyerinya, misalnya panas, tertusuk, berat, atau tertekan.
Catat juga pemicu yang mungkin ada, seperti makan, berbaring, olahraga, stres, batuk, atau gerakan tertentu. Perhatikan apakah nyeri menjalar dan gejala lain yang muncul bersamaan.
Bawa daftar obat, suplemen, serta riwayat penyakit jantung, paru, dan lambung. Informasikan pula kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan riwayat penyakit keluarga.
Apa yang Bisa Dilakukan Sambil Menunggu Pemeriksaan?
Jika nyeri tampak berkaitan dengan refluks dan tidak ada tanda bahaya, hindari makan besar setidaknya dua sampai tiga jam sebelum tidur. Cobalah tidur dengan posisi kepala dan dada lebih tinggi. Mengganjal kepala dengan banyak bantal sering membuat leher tidak nyaman, sehingga meninggikan bagian kepala tempat tidur lebih membantu.
Selain itu, kenali makanan pemicu pribadi. Sebagian orang perlu membatasi kopi, makanan pedas, makanan berlemak, cokelat, atau minuman bersoda pada malam hari. Berat badan yang berlebih juga dapat memperburuk refluks.
Jangan mengandalkan obat maag atau obat pereda nyeri untuk menutupi keluhan dada yang berat atau mencurigakan. Hindari pula minum obat jantung tanpa instruksi dokter. Bila rasa sakit berubah menjadi berat, disertai sesak atau keringat dingin, langsung cari bantuan medis.